Difteri Pada Anak

Menurut dr. Nevin Chandra Junarsa Sp.A. M.Kes

 

Difteri merupakan penyakit menular saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae yang menghasilkan toksin berbahaya. Bakteri ini dapat menempel dan bertumbuh menjadi banyak di daerah hidung, tenggorokan, tonsil (amandel), pita suara, dll. Bakteri ini juga dapat menyebabkan infeksi darah (sepsis) atau infeksi jantung.

 

Difteri dapat ditularkan melalui percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk, melalui barang-barang terkontaminasi oleh bakteri, sentuhan langsung pada borok apabila difteri ini mengenai kulit. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan padat dan kebersihannya tidak terjaga.

 

Penyakit difteri ini terutama menyerang daerah tenggorokan dan saluran napas. Masa inkubasi biasanya 1 sampai 5 hari. Biasanya pada tahap awal anak tampak sehat atau sakit ringan seperti demam ringan, rewel, nyeri menelan, dan lesu. Terkadang anak tampak pucat dan lemah akibat efek toksin bakteri. Pada penyakit difteri ditemukan tenggorokan tampak merah dan dilapisi selaput tebal putih keabu-abuan yang dapat meluas di seluruh tenggorokan. Pada tahap lanjut dapat terjadi pembengkakan leher (bullneck)

 

Pada difteria berat sering terjadi pembengkakan dan penyempitan saluran napas yang dapat menyebabkan sesak napas, suara napas mengorok, anak menjadi kebiruan, gelisah, bahkan koma atau meninggal. Hal-hal tersebut terjadi karena penyumbatan jalan napas. Pada difteria juga dapat terjadi komplikasi infeksi jantung yang dapat menyebabkan gangguan irama jantung dan kematian.

 

Apabila anda mengalami gejala atau menemukan gejala-gejala tersebut pada anak, segeralah bawa anak anda ke dokter atau petugas kesehatan terdekat. Dan apabila ditemukan gejala tahap lanjut seperti pembengkakan leher, sesak napas, anak tampak membiru, gelisah segera bawa ke unit gawat darurat Rumah Sakit terdekat untuk diberikan penanganan segera.

 

Pada zaman sebelum ada vaksinasi seperti saat ini, penyakit difteri merupakan penyakit yang paling ditakuti, penyakit ini menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi. Sebenarnya, di Indonesia angka kejadian kasus difteri sudah jarang ditemukan beberapa tahun yang lalu berkat suksesnya program vaksinasi. Namun saat ini penyakit difteri kembali merebak dan mengancam kesehatan kita, terutama anak-anak kita. Hal ini disebabkan mulai banyaknya orangtua yang tidak mau memberikan vaksin Difteri (terkandung pada vaksin DTP). Karena alasan takut anaknya panas atau rewel dan isu-isu tidak benar mengenai vaksinasi, sehingga orangtua tidak memberikan anaknya vaksin, dalam hal ini orangtua justru  membahayakan nyawa anaknya sendiri dengan tidak memberikan perlindungan terhadap bakteri berbahaya ini. Dan juga membahayakan anak orang lain karena menjadi sumber penularan bagi orang lain. Hampir 90% orang yang terinfeksi adalah orang yang riwayat vaksinasi difterinya tidak lengkap.

Artikel Oleh:

PROFILE

Nama: dr. Nevin Chandra Junarsa SpA. Mkes
Tempat/tanggal lahir: Bandung, 26 November 1983
Agama: Islam
Dokter umum: Universitas Kristen Maranatha Bandung
Dokter Spesialis Anak: Universitas Padjadjaran Bandung
Pasca sarjana (S2): Universitas Padjadjaran Bandung
Email: nevin26chandra@gmail.com

 

5 Thoughts to “Difteri pada anak menurut dr. Nevin Chandra Junarsa Sp.A, M.Kes”

  1. Sazkia Manurung

    Dokter yang ganteng, ramah dan baik hati….maju terus Rumah Sakit Karya Husada

  2. Yuyun Yuniar RSKH

    Dokter yang Mirip Song Joong Ki…. Ganteng Pisan

    1. H. Endang Gaosulloh

      Materinya bagus sesuai isue terkini,,,lanjutkan…

  3. Sekarlangit

    Dokter yg ramah, ngasih penjelasan ke pasien enak banget mudah dimengerti, ganteng lagi, top deh buat dr Nevin dan RS. Karya Husada

Leave a Comment